Lovers, salah satu desa di Bali, tepatnya Kabupaten Bangli, di bagian timur Bali rupanya dinobatkan sebagai salah satu dari tiga desa terbaik dunia. Desa ini bernama Desa Penglipuran. Dan kini desa ini menjadi desa wisata.

Desa Penglipuran menjadi contoh pengembangan desa wisata yang sukses. Ada sekitar 200 rumah bergaya tradisional di desa ini. Semuanya berderet rapi di jalanan menanjak.  Bangunannya seragam, semuanya berarsitektur tradisional Bali dari ujung hingga ke ujung lainnya. Pintu gerbang rumah (angkul-angkul) saling berhadapan dengan pintu gerbang rumah lainnya. Jalanan dibuat dari batu alam dan banyak tumbuh bunga warna-warni di sekitar desa. 

Desa Penglipuran Bangli berada di ketinggian sekitar 600 – 700 meter dari permukaan laut menjadikan udara di desa ini cukup sejuk. Tidak ada polusi kendaraan bermotor. Desa tradisional yang masih terjaga kealamiannya sampai sekarang. Desanya juga bersih, tidak ada sampah sama sekali berserakan, kecuali sedikit sisa-sisa sesaji di depan pintu gerbang setiap bangunan. 

Perempuan-perempuan Bali berpakaian adat terlihat lalu-lalang sambil membawa banten menuju pura yang berada di ujung bagian paling atas desa ini. Penduduk desa ini sangat menjaga kerukunan. 

Di desa ini juga terdapat hutan bambu yang luasnya sekitar 75 hektar. Selain sebagai tanaman yang berguna untuk kegiatan masyarakat Desa Penglipuran sehari-hari, pohon-pohon bambu ini  juga menjadi penopang kegiatan pariwisata. Tanaman bambu di hutan bambu ini sangat rimbun dan memberikan kesejukan. Tanaman bambu ini dikembangkan dan dipelihara oleh masyarakat desa secara turun temurun. 

Sejak dahulu, para orangtua Desa Penglipuran juga selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk menjaga kebersihan lingkungan. Desa ini memegang teguh filsafat Bali, Tri Hitakarana. Selalu mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan  dengan lingkungan alamnya. 

Nah, Lovers jika hendak berlibur ke Bali, desa ini layak dimasukkan dalam agenda berlibur di sana. Anda juga bisa memilih Kintamani, atau Pantai Suluban di Uluwatu, dan banyak lagi objek wisata menarik lainnya di Tanah Dewata ini. Dan, kemana pun tempat wisatanya, tumbler Bianglala selalu menjadi teman setia. Tumbler menjadi alternatif pilihan souvenir yang multifungsi.

Lovers, membawa tempat minum sendiri setiap berpergian merupakan kebiasaan yang sehat. Daripada setiap kali haus melanda, harus membeli air mineral botolan, bukan? Lagipula setiap kali membeli air mineral, botol bekasnya pun lebih sering dibuang. Dengan membawa tempat minum sendiri, pastinya lebih efektif dan efisien.

Gaya hidup green tak harus selalu diawali dengan melakukan hal-hal besar.  Every big step starts with an inch, begitu kata pepatah. Setiap langkah besar dimulai dengan langkah kecil, begitu kira-kira. Nah, langkah kecil bisa diawali dengan  membiasakan membawa tumbler setiap kali pergi, kemana pun. Misalnya membawa tumbler ke tempat kerja, tempat kuliah, saat travelling, atau bahkan sekedar hang out. Membawa botol minuman atau tumbler pribadi merupakan salah satu cara untuk mengurangi sampah plastik lho... 

Lovers, jangan lupa untuk mencuci botol minum atau tumbler setiap kali air habis digunakan. Kebanyakan orang hanya membilas botol minum dengan menggunakan air putih atau bahkan tak pernah mencucinya, karena terlihat bersih. Cucilah botol minum setelah setiap pemakaian. Jangan terus-menerus isi ulang botol minum dan tunggu waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu untuk mencucinya.

Tumbler makin populer keberadaannya di tengah masyarakat karena nilai kegunaannya. Aneka pilihan tumbler  by. Bianglala dapat dipilih untuk dijadikan souvenir berbagai acara, atau untuk promosi perusahaan/ institusi.


(Dari berbagai sumber)



Ulasan